Trilumin, Customer Experience Baru di Mal Taman Anggrek

profile photo reporter Saviq Bachdar
SaviqBachdar
19 September 2018
marketeers article
Customer experience kini menjadi fokus dari para pengelola mal di tengah kehadiran belanja daring. Harapannya, mal mampu menjaga trafik kunjungan dan meningkatkan transaksi di dalam mal. Alhasil, tenant sebagi mitra mal akan terus memperpanjang sewa ritelnya di pusat belanja itu
Nah, banyak cara yang bisa dilakukan dalam menciptakan experience di dalam mal. Seperti yang dilakukan oleh Mal Taman Anggrek (MTA) yang menghadirkan sebuah ruang seni seluas 600 m2 bernama Trilumin. Ini merupakan bagunan berupa lumanirium dengan cahaya sebagai isinya.
“Jika akuarium berisi air, lumanirium berisi cahaya yang membuat suasana menjadi indah. Di sana juga terdapat lagu-lagu yang relaxing mengingat ibukota sudah sangat padat,” papar Elvira Indriasari, Advertising & Promotions Manager MTA kepada Marketeers beberapa waktu lalu.
Elvira menjelaskan, Trilumin ini merupakan salah satu karya dari seni dari Architech of Air, sebuah perusahaan instalasi seni asal Inggris. Karya luminarium ini sudah dibuat sejak tahun 1992 dan sudah memukau lebih dari tiga juta pasang mata di lebih dari 40 negara di lima benua, termasuk Kanada, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia. Di MTA, instalasi ini berlangsung sejak 11 hingga 30 September 2018 pada jam 11 siang hingga 9 malam.
“Ini merupakan luminarium pertama yang ada di Indonesia. Kami hadirkan ini agar pengunjung dapat merasakan atmosfir yang berbeda di dalam mal,” papar dia.
Ia melanjutkan, dengan kompetisi mal yang kiat ketat, kehadiran luminarium dapat menegaskan diferensiasi MTA dalam memberikan layanan yang memuaskan kepada pengunjung agar betah berada di dalam mal. “Sekaligus menunjukkan bahwa mal bukan sekadar tempat berbelanja dan hangout. Melainkan ada pengalaman berbeda yang dapat memberikan ketenangan seperti di Lumanirium ini,” turut dia.
Inspirasi Islami
Katy, salah satu perwakilan Architect of Air menjelaskan, Trilumin terinspirasi dari keindahan geometris alam dan juga dari arsitektur islamik. Sang pendiri adalah Alan Parkinson, seorang seniman asal Inggris yang menjadikan fenomena cahaya sebagai dasar ide dari luminarium.
Kilauan cahaya dan warna di dalam luminarium terbuat secara alami dari kilau cahaya yang menyinari permukaan plastik yang berwarna-warni. “Trilumin ini memiliki jalur dan kubah-kubah kecil yang dapat dijelajahi oleh pengunjung dan terinspirasi oleh bentuk berulang dari pasar-pasar di Iran,” kata Katy.
Ia menjelaskan, seluruh bagian dari Trilumin dipotong dan disambung langsung dengan tangan di workshop-nya yang berlokasi di Nottingham, Inggris. Sementara untuk latar musik, pihaknya bekerja sama dengan para musisi Eropa untuk menciptakan alunan musik seperti perpaduan suara alam yang menenangkan.
Dia melanjutkan, luminarium biasanya dipamerkan di luar ruang agar dapat menerima sinar matahari langsung, sehingga cahaya yang dihasilkan di dalam luminarium menjadi lebih kentara. Namun di Indonesia, dengan kondisi suhu yang tropis, Katy bilang terlalu banyak cahaya matahari akan membuat kondisi dalam ruang menjadi terlalu terang.
“Kami juga menyesuaikan ukuran tempat luminarium diletakkan. Jika di luar ruangan, luminarium bisa tiga hingga empat kali lebih besar dari yang ada di MTA,” ucapnya lagi.
Untuk bisa merasakan atmosfir menyejukkan dari luminarium, pengunjung MTA bisa membeli tiket masuk seharga Rp 50.000 menggunakan Go-Pay atay melalui pemesanan online di Tokopedia. Jika ingin membayarnya langsung di konter, harganya senilai Rp 60.000 per orang.
Trilium di MTA memiliki kapasitas maksimal 60 orang dengan waktu maksimum 30 menit selama berada di dalam ruangan. Ini dimaksudkan agar sirkulasi udara tetap terjaga dan konsumen lebih leluasa saat berada di dalam ruangan.
Elvira mengaku, pihaknya menargetkan dapat merangkul 30 ribu orang dari atraksi luminarium selama 20 hari. “Sampai dengan empat hari berjalan, sudah empat ribu orang berkunjung ke luminarium,” terang dia.
Ada tiga kriteria pengunjung yang telah mencoba lumanirium ini, yaitu anak-anak, milenial, dan orang tua. Bagi anak-anak, mereka senang berlari-lari bagai menyusuri labirin. Bagi orang tua, mereka relaksasi dengan duduk di sudut-sudut yang ada. “Sementara bagi milenial, mereka menjadikan luminarium sebagai tempat untuk mengambil gamar yang Instagramable,” paparnya.
Penasaran? Silakan kunjungi central atrium Mal Taman Anggrek, Jakarta.
 
Editor: Eko Adiwaluyo

Related