Gorilla Marketing, Strategi Unik dari Kingdom of The Planet of The Apes

marketeers article
Ilustrasi gorila. (FOTO: 123RF)

Gorilla menjadi salah satu ciri khas dalam film Kingdom of The Planet of The Apes. Keunikan itu pun membuka peluang pemasaran yang khas lewat strategi yang disebut dengan gorilla marketing.

Sebenarnya tidak ada yang namanya gorilla marketing dalam strategi pemasaran. Istilah itu merupakan pelesetan dari strategi yang disebut dengan  guerilla marketing.

Mengapa dipelesetkan seperti itu? Film berjudul The Kingdom of The Planet of the Apes ini menggunakan strategi guerilla marketing yang unik.

Di Amerika, film yang meluncur di bioskop Indonesia pada 8 Mei 2024 ini dipasarkan dengan menampilkan sejumlah gorila yang menaiki kuda di area publik. Para gorila berkuda ini terlihat di area San Fransisco, Los Angeles, dan New York.

gorilla marketing
Gorilla marketing. (FOTO: Marketing Mentor via Instagram)

Sontak, masyarakat yang berada di area sekitar terkejut melihat sekumpulan gorila melintas dengan menaiki kuda bak manusia. Banyak yang mengabadikan pertemuannya dengan gorila tersebut dan mengunggahnya ke media sosial.

Dari fenomena itu, munculah istilah gorilla marketing, sebuah taktik pemasaran gerilya yang dieksekusi secara apik oleh promotor film. Karena taktik pemasaran ini dibicarakan di media sosial, popularitas film itu sendiri menjadi terdongkrak.

BACA JUGA: Usung Guerilla Marketing, Domino’s Pizza Tarik Ribuan Pelanggan

Belajar dari strategi ini, maka pemasar perlu mengetahui beragam seluk beluk dari guerilla marketing. Guerrilla marketing pertama kali diperkenalkan oleh Jay Conrad Levinson lewat bukunya dengan judul yang sama pada tahun 1983.

Awalnya, konsep ini ditujukan untuk usah kecil dan menengah atau UKM hingga dipakai juga oleh perusahaan besar sebagai brand challenger. Bak cerita kolosal David melawan Goliath, para brand challenger ini tentunya tak punya modal sebesar merek-merek yang sudah mapan. Karenanya, mereka harus jeli, memutar otak, untuk menemukan cara merebut perhatian konsumen.

Teknik pemasaran ini didasarkan pada dua tujuan besar. Pertamaadalah to surprise, alias mengejutkan orang-orang yang melihatnya.

BACA JUGA: Street Marketing Federal Oil Ajak Tim Gresini Racing MotoGP Keliling Jakarta

Kenapa harus membuat orang kaget? Prinsip sederhananya, orang akan memberikan perhatian lebih kepada hal yang mengagetkannya.

Kedua adalah to amplify, alias memperkuat corong dari pemasaran yang dilakukan. Tujuannya adalah membuat orang terkesan, bukan cuma kaget.

Karena ketika sebuah hal berkesan, maka orang-orang cenderung akan membagikannya dari mulut ke mulut ke kenalannya, atau mengunggahnya di media sosial agar bisa diketahui orang banyak.

Secara umum mungkin orang tidak banyak yang kenal istilah guerilla marketing. Bahasa sederhananya adalah pemasaran viral, atau ‘S3 Marketing’ seperti yang sering diucapkan generasi muda sekarang.

BACA JUGA: Jago Excel? Ikuti Excel Rookie Cup di Jakarta Marketing Week

Ada beberapa turunan dari teknik marketing gerilya yang bisa pemasar terapkan. Turunan itu yakni ambush marketing, experiential product marketing, ambient marketing, dan street marketing.

Sesuai namanya, ambush marketing merupakan teknik pemasaran yang memanfaatkan situasi yang tidak terduga. Biasanya, ini digunakan oleh merek dalam sebuah acara yang tidak disponsori oleh merek itu sendiri. Bahasa awamnya, numpang promo.

Teknik seperti ini biasanya akan memunculkan masalah hukum di kemudian harinya, karena jelas hal ini dilakukan tanpa seizin promotor acara. Tapi, biasanya pemasar mengakalinya dengan tidak menampilkan logo merek, dan hanya menampilkan produknya saja.

BACA JUGA: 3 Film yang Perlu Ditonton sebelum Kingdom of the Planet of the Apes

Misal, Nike bisa mensponsori tim sepak bola yang berkompetisi di ajang yang digelar oleh Adidas, atau sebaliknya.

Ada juga experiential product marketing. Inti dari strategi ini adalah memberikan pengalaman yang berbeda kepada konsumen ketika mencoba produk dari merek.

Biasanya, cara ini dilakukan dengan cara meminta konsumen melakukan hal-hal yang menarik perhatian orang lain, seperti berteriak sekencang-kencangnya untuk mendapatkan produk gratis. Cara seperti ini jelas mampu menarik perhatian orang lain, selain petugas keamanan.

Kemudian ada juga ambient marketing. Poin dari strategi ini adalah membuat sesuatu yang menarik perhatian orang sehingga timbul interaksi antara orang-orang dengan objek tersebut.

Biasanya ini dilakukan di tempat terbuka seperti di taman. Cara seperti ini bisa dilakukan merek dari beragam industri. Misal, merek yang menjual kaca bisa menaruh sebuah kotak kaca dengan ketahanan yang kuat, yang di dalamnya diisi emas batangan, atau segepok uang.

BACA JUGA: Dorong Penjualan, Adidas Bakal Investasi Besar untuk Marketing

Kemudian, orang-orang yang lewat di sekitar diarahkan untuk memecahkan kaca tersebut untuk mengambil uang dan emas di dalamnya secara gratis, kalau mereka bisa memecahkan kotak kaca tersebut.

Terakhir, adalah street marketing. Teknik ini digunakan dengan menarik perhatian orang-orang di sebuah jalanan yang ramai.

Gorilla marketing adalah salah satu contoh dari street marketing. Tidak ada yang berekspektasi untuk berpapasan dengan segerombol gorila yang sedang naik kuda di jalanan.

Kembali kepada dua prinsip awal, pemasar harus menghadirkan hal yang mengejutkan sekaligus berkesan.

Ini juga pernah dilakukan oleh serial kenamaan Game of Thrones pada 2013. Kala itu, tim pemasaran dari film ini menaruh tengkorak kepala naga di sejumlah pantai di Inggris.

Tentunya selain mengejutkan pengunjung pantai, hal ini meningkatkan awareness dari serial barat tersebut.

Editor: Eric Iskandarsjah

Related