Belajar Marketing dari Band Coldplay, Ternyata Ini Rahasia Suksesnya

marketeers article
Coldplay Singapore | sumber: 123rf

Strategi marketing adalah salah satu faktor kesuksesan bagi sebuah produk atau layanan agar dapat laku terjual dan digunakan oleh seluruh pelanggan. Begitu juga dengan strategi marketing Coldplay yang sangat berperan dalam kesuksesan band hingga saat ini.

Pada 15 November 2023 mendatang, band asal Inggris, Coldplay akan berkunjung dan menyelenggarakan konser ‘Music of the Spheres’ di Jakarta, Indonesia. Berita ini membuat keramaian di media sosial karena konser tersebut menjadi yang pertama kalinya bagi Coldplay untuk datang ke Indonesia.

Bahkan, pada tanggal 17-19 Mei 2023, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan war tiket konser Coldplay yang sangat cepat ludes habis terjual. Selama lebih dari 25 tahun berkarya, Coldplay menjadi salah satu band pop-rock yang paling terkenal di dunia. 

Coldplay selalu mampu menjual jutaan rekaman fisik dan tampil di stadion dan aula dengan tiket habis terjual di seluruh dunia. Bahkan, album baru dan tur dapat menghasilkan hype yang sangat luar biasa bagi para penggemarnya. 

Hal ini bisa terjadi tentu karena kualitas penampilan setiap personel dan karisma sang vokalis, Chris Martin yang selalu ditunggu para penonton. Kualitas band yang mumpuni tentu juga didukung oleh strategi promosi dan marketing yang tepat di setiap konser dan perilisan album baru. 

Salah satu produk pemasaran yang menjadi ciri khas Coldplay adalah gelang bersinar yang terintegrasi dengan keseluruhan konser membuat konser menjadi lebih berwarna dan meriah. Untuk mengetahui lebih lanjut terkait strategi pemasaran yang telah sukses diterapkan oleh Coldplay, simak artikel berikut ini:

1. Dekat dengan penggemar melalui social media interaction

Coldplay adalah salah satu band pionir yang menggunakan media sosial sebagai wadah mengiklankan seluruh aktivitas musiknya. Coldplay menjadi band pertama yang menggunakan fitur penjadwalan acara dari Facebook, sehingga mereka mengumumkan tanggal konser secara langsung di platform tersebut. 

Coldplay juga memanfaatkan aplikasi Snapchat untuk berbagi kehidupan sehari-hari selama melakukan tur dunia kepada seluruh penggemar dan pengikut mereka. Bahkan, saat ini Coldplay sangat aktif di TikTok hingga mampu menjangkau ribuan penonton. 

Coldplay berusaha untuk membangun hubungan emosional dengan para penggemar melalui interaksi media sosial yang juga menjadi strategi pemasaran dan komunikasi yang efektif. 

BACA JUGA: Siap-siap War! Simak 7 Tips Menang War Tiket Konser Coldplay di Jakarta

2. Menstimulasi emosi penonton dengan multisensory marketing

Selama bertahun-tahun eksis di industri musik, Coldplay telah menerapkan beberapa strategi pemasaran yang tidak hanya berfokus pada publik, tetapi juga berorientasi pada User Generated Content (USG). Salah satunya dengan menerapkan multisensory marketing. 

Multisensory marketing ini bertujuan untuk membangun emosi dan perasaan positif melalui stimulasi pancaindera, sehingga menciptakan pengalaman indrawi yang unik selama konser berlangsung. Coldplay sangat menekankan customer experience terbaik bagi setiap penontonnya. 

Salah satunya adalah dengan memberikan gelang LED warna warni (gelang Xylobands) yang dapat dikendalikan dari jarak jauh mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh Coldplay. Gelang ini memberikan pengalaman emosional yang dramatis. 

3. Jangkau semua penonton dengan inclusive marketing

Inclusive marketing memungkinkan semua orang dapat menikmati produk atau layanan, terutama bagi penyandang disabilitas. Bisnis tidak seharusnya mengecualikannya dan membuat penyandang disabilitas sebagai hambatan. 

Saat konser Coldplay ‘Music of the Spheres’ di Amerika Latin, Coldplay membagikan peralatan untuk penonton tunarungu agar mereka tetap bisa menikmati konser. Mereka diberikan ransel khusus dengan sensor yang bergetar selaras dengan musik, sehingga memungkinkan penonton tunarungu dapat mendengarkan lagu secara ‘fisik’. 

Selain itu, Coldplay juga menyediakan juru bahasa isyarat yang diproyeksikan ke layar besar agar semua penonton dapat memahami setiap lirik yang dinyanyikan. Strategi marketing ini tentu membangun sentimen positif masyarakat terhadap Coldplay dan disebarkan oleh penggemar melalui media sosial dan word-of-mouth. 

BACA JUGA: Green Marketing: Cintai Bumi dengan Strategi Pemasaran Berkelanjutan

4. Penonton menjadi FOMO karena scarcity marketing

Strategi marketing Coldplay yang keempat adalah scarcity marketing. Ketika Coldplay mengumumkan akan menyelenggarakan konser di sebuah negara, banyak pihak yang dapat memanfaatkan momen ini dengan membeli tiket dalam jumlah banyak di luar kebutuhan untuk dapat dijual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal. 

Fenomena war tiket juga menunjukkan ribuan orang berusaha untuk mendapatkan tiket karena ketakutan akan kehabisan tiket. Kondisi inilah yang disebut scarcity marketing. 

Meskipun Coldplay tidak ikut campur dalam kejadian ini, namun hal tersebut tentu menguntungkan pihak Coldplay. Masyarakat menjadi sangat (Fear of Missing Out (FOMO), baik itu penggemar atau hanya penonton ikut-ikutan saja. 

Kondisi ini menghebohkan masyarakat dan menjadi perbincangan yang hangat di setiap tempat. Dengan begitu, brand awareness dan brand image Coldplay akan makin meningkat. 

5. Konser ramah lingkungan sebagai strategi sustainable marketing

Konser tur dunia yang bertema ‘Music of the Spheres’ mengangkat konsep ramah lingkungan dengan memperhatikan isu lingkungan dan berkelanjutan. Terdapat tiga prinsip keberlanjutan yang diterapkan pada konser Coldplay ini, yaitu:

Reduce (mengurangi): konser akan digelar dengan memangkas emisi karbondioksida hingga 50% dibandingkan dengan konser 2016-2017.

Reinvent (menciptakan): konser akan mendukung penuh teknologi baru berbasis energi hijau.

Restore (mengembalikan): memulihkan lingkungan dengan mengadakan proyek yang dapat mengurangi karbondioksida, yakni dengan penanaman pohon dan perawatan seumur hidup dari setiap satu tiket konser yang dikonversi menjadi satu pohon.

Berdasarkan artikel Sustainability Coldplay, Coldplay berjanji untuk sebisa mungkin melakukan inisiatif dengan menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Inisiatif tersebut seperti menggunakan material panggung yang rendah karbon, menyediakan sepeda statis, confetti yang biodegradable, gelang LED yang bisa dijadikan kompos, dan mengurangi sampah plastik.

Gerakan ini menjadi strategi sustainable marketing yang memberikan nilai tambah bagi para penonton, terutama bagi target audiens pencinta lingkungan. Dengan inisiatif ini, brand image dan brand reputation Coldplay menjadi makin kuat di mata masyarakat dunia. 

BACA JUGA: Cara Coldplay Gelar Konser Ramah Lingkungan

Demikianlah penjelasan mengenai strategi marketing yang sukses diterapkan oleh Coldplay. Strategi ini meliputi social media interaction, multisensory marketing, inclusive marketing, scarcity marketing, dan sustainable marketing. 

Reputasi yang telah dibangun oleh Coldplay selama lebih dari 20 tahun telah mampu mencapai ketenaran di seluruh belahan dunia hingga lintas generasi. Hingga saat ini, Coldplay terus membangun hubungan emosional yang kuat dengan seluruh penggemar, sehingga memiliki brand loyalty yang tidak hanya tinggi, tetapi sudah tertanam di benak para penonton. 

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS