Dukung Kemenparekraf RI, YABB Terapkan Ekonomi Sirkular di Destinasi Wisata

marketeers article
Kerja sama Kemenparekraf dengan YABB (Foto: YABB)

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI tengah melakukan pengelolaan sampah di destinasi wisata Tanah Air. Dalam upayanya ini, Kemenparekraf didukung juga oleh Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB) sebagai organisasi non-profit.

Dukungan dari YABB diberikan melalui inisiatif Catalyst Changemaker Ecosystem (CCE) gelombang kedua. Program ini berupaya membantu menyelesaikan permasalahan sampah melalui penerapan ekonomi sirkular di Bali, Labuan Bajo, dan Danau Toba.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah pada 2020. Dan, 37,3% sampah di Indonesia berasal dari aktivitas rumah tangga dan diperkirakan akan meningkat 5% setiap tahunnya.

Menanggapi tantangan ini, pemerintah Indonesia telah meluncurkan sejumlah inisiatif menuju Indonesia Bebas Sampah 2025. Meski begitu, masih diperlukan aksi nyata dari semua pihak dalam rantai nilai sampah untuk turut mengurangi volume sampah.

BACA JUGA: Mendalami Konsep Ekonomi Sirkular Lewat Buku The Future is Circular

“Kita semua sadar bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luasan lautan sebesar 70% dari wilayahnya, namun hingga saat ini Indonesia masih berada dalam krisis sampah,” papar Fransiskus Xaverius Teguh, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

Kemenparekraf sadar bahwa pantai dan lautan merupakan aset terbesar bagi pariwisata Indonesia yang dapat mengundang banyak wisatawan serta mendongkrak nilai devisa pada sektor pariwisata. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat harus berpartisipasi secara aktif dalam pelestariannya.

Hal ini yang selanjutnya ditangkap oleh YABB melalui inisiatifnya. “Lewat CCE, kami berkomitmen untuk membantu agenda Pemerintah Indonesia dalam mencapai 30% pengurangan dan 70% penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenisnya, serta penanganan timbulan sampah lautan pada tahun 2025,” ungkap Monica Oudang, Chairperson Yayasan Anak Bangsa Bisa dalam laporan tertulisnya.

Melalui kolaborasi dengan para pembuat dampak, YABB akan menerapkan solusi inovatif berbasis ekosistem untuk mempercepat transisi ekonomi sirkular menuju Indonesia bebas sampah.

BACA JUGA: Usia 9 Tahun, Re.juve Kian Fokus Menuju 0 Sampah

YABB mengidentifikasi sebuah pelajaran penting, yaitu solusi temporer dan upaya yang berjalan sendiri-sendiri tidak akan cukup untuk menghasilkan perubahan jangka panjang.

“Untuk itu, kami terus berupaya untuk merancang inisiatif yang mendukung agenda pemerintah melalui tiga kegiatan utama CCE, yaitu Link Up (bersatu), Sync Up (melebur), dan Scale Up (berkembang),” lanjut Monica.

Pada kesempatan ini, YABB akan bekerja sama dengan Kemenparekraf RI dalam lingkup pertukaran data dan informasi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan sampah di tiga daerah wisata. Selain itu, bersama dengan kelompok changemakers (pembawa perubahan) yang terpilih, YABB akan mengimplementasikan solusi inovatif melalui proyek percontohan di Bali, Labuan Bajo, dan Danau Toba.

Pada pelaksanaannya, YABB akan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait seperti Badan Otorita Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup Daerah, Dinas Pariwisata Daerah, Dinas Pekerjaan Umum Daerah, Penyedia Jasa Pengelolaan Sampah, dan Pengelola Destinasi Wisata Bahari.

Related

award
SPSAwArDS