Lifestyle

Mencoba Mendengar Ian Hugen Sebagai Sosok Transpuan

123rf.com

Perlakuan diskriminasi bukanlah hal yang baru bagi kaum minoritas, terutama untuk para transgender. Tidak jarang mereka mendapat penolakan keras baik dari masyarakat umum bahkan dari keluarga sendiri. Dalam program Semarak Nusantara yang bertajuk Mencoba Mendengar, MarketeersTV berhasil menghadirkan Ian Hugen sebagai narasumber yang merupakan sosok transpuan di Indonesia.

Ian Hugen menceritakan bagaimana ia kerap menghadapi tantangan dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang transpuan, termasuk komentar pedas dan kritik serta ancaman. Sejak kecil, Ian yang akrab disapa telah sadar dan merasakan sisi feminin pada dirinya. Saat ini ia fokus menyuarakan kesetaraan gender dan konsep self love pada setiap karyanya yang mengajak masyarakat untuk tampil percaya diri dengan berbagai keunikan yang dimiliki.

Setelah memberanikan diri untuk berubah sejak tahun 2017 dan terjun dalam pekerjaan di industri kreatif, ia menyampaikan perbedaan respons yang didapat dari saat masih menjadi seorang laki-laki dan disaat telah berubah menjadi perempuan. Menurutnya, menjadi seorang laki-laki memiliki banyak hak istimewa. Di antaranya ialah laki-laki bisa berada di luar rumah sampai jam berapa pun, mengenakan busana apa pun dan tetap bisa merasa aman di ruang publik. Sementara sebagai perempuan tidak bisa mendapat hak itu.

 

“Menariknya, di saat aku masih menjadi seorang laki-laki yang berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai, hal ini dilihat sebagai panutan yang benar. Namun setelah aku berubah menjadi seorang perempuan, dengan kualitas diri yang sama, hal itu justru menjadi pandangan yang menyeramkan bagi masyarakat yang membuat minder kaum laki-laki,” ungkap Ian pada program Mencoba Mendengar Jumat, (06/08/2021).

Dalam perjalanannya sebagai seorang transpuan, ia mengaku terdorong menjadi lebih dewasa yang tercermin pada bagaimana ia menanggapi pendapat dan kritik yang kerap diterima. Ian menegaskan bahwa kritikan memiliki dua sifat dimana ada yang membangun dan ada yang menjatuhkan. Untuk menanggapi kritikan yang sifatnya membangun, ia akan menjadikannya sebagai bahan untuk merefleksikan diri dan tidak ingin menanggapi kritik yang sifatnya menjatuhkan.

You need to choose the right environment. Kuncinya itu kita perlu memilih lingkungan dengan benar yang baik untuk kita. Dengan masuk kedalam lingkungan yang baik, kita akan dikelilingi orang-orang yang positif,” tutup Ian.

The Latest

To Top