Okupansi Kantor di Jakarta Terus Merosot

profile photo reporter Saviq Bachdar
SaviqBachdar
06 Oktober 2016
marketeers article
40390705 white interior with large windows. 3d rendering
Jakarta memang tak lama lagi akan terlihat seperti Singapura. Gedung-gedung pencakar langit baik yang sudah ada maupun yang tengah dibangun menandakan kota ini siap untuk menjadi kota metropolis. Akan tetapi, tunggu dulu. Sampai saat ini, tren okupansi perkantoran di Ibukota malah menurun.
Berdasarkan kajian konsultan properti Colliers International, pada kuartal tiga tahun ini, Jakarta telah dipadati banyak pasokan perkantoran baru. Sementara itu, ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat permintaan sewa maupun penjualan strata tittle office mengalami kelesuan.
“Sampai sejauh ini, belum banyak transaski penjualan strata title office. Ini yang bisa membuat adanya koreksi harga jual,” papar Ferry Salanto, Direktur Riset Colliers Indonesia, Selasa (4/10/2016).
Ferry melanjutkan, okupansi perkantoran selama dua tahun terakhir turun 10%. Pada tahun 2014, okupansi ruang kantor di Jakarta sempat mencapai 95%. Per kuartal tiga 2016, okupansi kantor merosot 85%. Torehan itu pun dibantu dari penyerapan yang cukup tinggi di area CBD Jakarta.
Dia memprediksi, okupansi bisa terus merosot ke level 80%, mengingat masih banyaknya ruang kantor baru yang rampung pada tahun 2019. Permintaan yang tak sebanding dengan jumlah pasokan menyebabkan kemerosotan okupansi kantor.
Di sisi lain, Jones Lang La Salle menyebut bahwa masih ada 2,4 juta m2 pasokan perkantoran di luar CBD saat ini. Sedangkan, di masa yang akan datang, pasokan akan bertambah sekitar 660 ribu m2. Okupansinya pun sudah berada di level 80%.
Adapun pasokan perkantoran di area CBD Jakarta sampai saat ini mencapai 5,3 juta m2. Kawasan ini akan menambah 1,7 juta m2 pasokan kantor baru dalam beberapa tahun mendatang. Sementara itu, okupansi kantor berada di angka 85%.
Editor: Sigit Kurniawan
 

Related