Strategi Pocari Sweat Menjaring Awareness lewat Content Marketing

marketeers article
Puspita Winawati, Marketing Director PT Amerta Indah Otsuka. (FOTO: Marketeers)

Content marketing berbeda dengan advertising tradisional. Advertising biasanya berfokus pada brand dan memiliki dampak jangka pendek, seperti meningkatkan kesadaran atau penjualan dalam waktu tertentu.

Sebaliknya, content marketing lebih berorientasi pada kebutuhan konsumen, berupaya memahami apa yang mereka inginkan dan butuhkan, serta menginspirasi mereka. Dampak dari content marketing biasanya bersifat jangka panjang, bertujuan menciptakan loyalitas dan advokasi dari konsumen.

Dalam praktiknya, Puspita Winawati, Marketing Director PT Amerta Indah Otsuka (Pocari Sweat) mengatakan bahwa pembuatan content marketing jangan sekadar membuat konten saja.

BACA JUGA: 5 Mitos Digital Marketing, Media Sosial Saja Cukup?

“Jadi intinya objektifnya itu jangan untuk membuat konten. Tapi objektifnya adalah bagaimana kita bisa membuat beneficial content,” kata perempuan yang akrab disapa Wina ini dalam acara Tech For Business 2024 yang digelar di CGV Grand Indonesia, Jakarta.

Objektif Pocari Sweat dalam content marketing adalah untuk menginspirasi lebih banyak orang menjalani gaya hidup sehat melalui lari yang aman dan nyaman.

Awalnya, iklan Pocari Sweat berfokus pada pesan brand seperti ‘kembalikan ion setelah berlari’. Namun, seiring waktu, Pocari Sweat menggabungkan iklan dengan content marketing yang lebih edukatif dan inspiratif.

“Kita perlu understand the needs of the audience. Konten apa yang membuat mereka terinspirasi,” katanya.

BACA JUGA: Menggali Simfoni Content Marketing dan Advertising dari Red Bull

Salah satu inisiatifnya adalah program Born to Sweat, yang menggabungkan pelatihan dari tim ahli dengan figur publik yang belum pernah berlari sebelumnya.

Pocari Sweat juga mendirikan Pocari Sweat Sport Science, sebuah platform edukasi yang memberikan pelatihan tentang cara berlari yang benar. Dalam program ini, figur publik menjalani pelatihan intensif selama enam bulan untuk menyelesaikan maraton pertama mereka.

Tidak hanya menginspirasi, Pocari Sweat juga memberikan layanan langsung kepada audiens. Mereka menyediakan program pelatihan offline dan aplikasi mobile bagi mereka yang ingin berlatih sendiri.

BACA JUGA: Pocari Sweat Run Indonesia 2024 Bidik 30.000 Peserta

Selain itu, Pocari Sweat Run diadakan setiap tahun, bahkan di masa pandemi, untuk terus mendukung komunitas pelari.

Hasilnya, Pocari Sweat berhasil menciptakan lebih banyak pelari dan mengembangkan komunitas lari di Indonesia. Dari hanya 5 ribu peserta pada tahun 2014, Pocari Sweat Run kini menargetkan 30 ribu peserta.

Dengan dedikasi untuk terus menginspirasi dan mendukung gaya hidup sehat, Pocari Sweat berkomitmen untuk terus menumbuhkan komunitas pelari dan mengembangkan industri lari di Indonesia.

“Temukan layanan yang merek Anda bisa berikan ke audiens. Menurut kami ini adalah yang bisa membedakan antara brand kalian dengan brand lainnya,” pungkasnya.

Editor: Eric Iskandarsjah

Related