Thrifting: Solusi Fast Fashion yang Makin Populer bagi Kaum Muda

marketeers article
thrifting | sumber: 123rf

Thrifting adalah pengalaman berbelanja unik yang memunculkan perasaan berbeda. Budaya ini menjadi sebuah tren yang juga kian menghangat di kalangan anak muda. 

Thrifting dianggap sebagai solusi untuk berbelanja hemat dengan membeli barang bekas yang layak pakai. Bahkan, apabila budaya ini dilakukan dengan sistem yang benar dapat membantu menjadi solusi atas permasalahan fast fashion.

Industri pakaian yang menggunakan sistem fast fashion sudah terbukti menjadi salah satu sumber terbesar perubahan iklim di dunia. Sampah pakaian yang menumpuk menjadi kontributor besar dalam fenomena pemanasan global. 

Oleh karena itu, produk pakaian yang masih layak pakai tidak seharusnya terbuang begitu saja, namun bisa dimanfaatkan kembali dengan biaya yang jauh lebih murah. Namun, sebenarnya apa yang dimaksud thrifting? Mengapa thrifting menjadi budaya yang populer di kalangan anak muda? Simak penjelasannya berikut ini:

Apa itu thrifting?

Menurut TRVST, thrifting adalah tindakan dan proses membeli barang bekas. Sebagian pembeli yang melakukan thrifting mulai menggeser gaya hidupnya untuk tidak lagi berbelanja di ritel biasa, melainkan toko barang bekas untuk menemukan barang-barang yang menarik.

Dalam hal ini, thrifting biasanya identik dengan produk pakaian yang sudah terbukti memiliki dampak negatif bagi lingkungan. Fast Fashion yang berkembang sejak industrialisasi telah menjadi kontributor besar penyumbang sampah pakaian di setiap negara seluruh dunia. 

Dengan begitu, thrifting menjadi sebuah gaya hidup berdasarkan prinsip berkelanjutan dengan penggunaan ulang produk layak pakai. Namun, thrifting tidak hanya mencakup pakaian, melainkan seluruh barang bekas, mulai dari aksesori, tas, furniture, hingga barang antik unik.

BACA JUGA: Sustainable Business: Peran Pelaku Bisnis dalam Mewujudkan SDGs

Mengapa thrifting menjadi populer di kalangan milenial dan Gen-Z?

Dalam beberapa tahun terakhir, thrifting mulai mendapatkan popularitas yang tinggi di kalangan milenial dan generasi Z. Berikut empat alasan utama mengapa anak muda tertarik untuk berpartisipasi dalam budaya thrifting? 

Affordable

Thrifting menjadi budaya yang disukai oleh kaum muda karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah, namun dengan kualitas yang cukup baik dan layak pakai. Bagi anak muda yang masih dalam proses menuju kebebasan finansial, maka thrift shop menjadi toko yang baik untuk membeli pakaian dan barang lainnya tanpa harus menghabiskan terlalu banyak uang. 

Ramah lingkungan dan berkelanjutan

Isu berkelanjutan dan pelestarian lingkungan makin mendapatkan banyak perhatian dari kalangan muda. Tidak dimungkiri industrialisasi membutuhkan banyak sumber daya, seperti air dan energi untuk dapat memproduksi produk mereka. 

Tidak hanya sumber daya yang digunakan, aktivitas produksi ini juga tentu menghasilkan dampak sampingan bagi lingkungan, mulai dari polusi air, udara, hingga tanah. Bagi generasi muda yang telah melek dengan isu lingkungan, mereka akan lebih memilih untuk dapat mengonsumsi dan menggunakan produk-produk yang lebih ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan. 

Penggunaan kembali barang-barang bekas juga mengurangi jumlah barang yang akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan begitu, thrifting menjadi cara yang tepat untuk mengurangi volume sampah yang dihasilkan oleh hampir sebagian besar populasi dunia yang bersifat konsumerisme. 

BACA JUGA: Dari Preloved Fashion, Tinkerlust Sasar Sustainable Fashion

Charitable

Dalam hal ini, charitable berarti memberikan kesempatan untuk masyarakat luas untuk berbuat baik melalui barang bekas yang dimiliki. Organisasi nirlaba dan amal umumnya membuka toko barang bekas yang menjual barang-barang tidak terpakai dengan harga yang jauh lebih murah. 

Dengan begitu, masyarakat yang kurang mampu tetap dapat membeli barang kebutuhan dengan harga yang terjangkau dan tidak memberatkan.

Mendukung kreativitas

Budaya ini membuat anak muda menjadi lebih kreatif dengan menemukan gaya pakaiannya sendiri. Anak muda menjadi lebih kreatif dalam memadupadankan warna dan gaya pakaian. 

Tidak hanya pakaian, barang bekas selain pakaian juga bisa dibeli dengan harga murah untuk dijadikan kerajinan tangan yang lebih berguna. 

Demikianlah penjelasan mengenai budaya thrifting yang semakin populer di kalangan anak muda. Budaya thrifting yang benar dan bisa berdampak bagi lingkungan haruslah benar-benar barang bekas dalam negeri, bukan barang bekas impor yang kemudian dijual di Indonesia. 

Hal tersebut bukannya mengurangi sampah dalam negeri, melainkan menambah jumlah sampah yang telah menimbun di dalam negeri. Anda bisa mencari dan membeli pakaian thrift ini dari berbagai thrift shop baik online maupun offline

Anda perlu memperhatikan dengan baik bagaimana kualitas dari produk yang Anda beli.  Jadikan budaya thrifting sebagai solusi untuk mengurangi limbah pakaian dari aktivitas fast fashion yang memicu pemanasan global. 

BACA JUGA: Darurat Sampah Tekstil, Sejauh Mata Memandang Gelar Edukasi Sustainable Fashion

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS