Cara Go-Food Festival Dongkrak Pertumbuhan Transaksi Go-Food

profile photo reporter Ramadhan Triwijanarko
RamadhanTriwijanarko
27 Agustus 2018
marketeers article
Selain transportasi, salah satu layanan yang dihadirkan oleh Go-Jek dan amat digemari oleh konsumennya adalah layanan Go-Food. Layanan yang pertama kali diluncurkan pada pertengahan tahun 2015 ini memungkinkan konsumen memesan makanan dari puluhan ribu merchant dan datang dalam hitungan jam.
Sekarang ini layanan Go-Food telah tumbuh menjadi layanan antar makanan yang terbesar di dunia di luar Cina. Menurut Nadiem Makarim selaku CEO Go-Jek, saat ini lebih dari 80% merchant partner Go-Food merupakan pengusaha kuliner yang masuk kategori pengusaha kecil dan menengah. Saat ini, setidaknya sudah ada 150 ribu merchant partner yang bergabung dalam ekosistem Go-Food.
Usaha kuliner memiliki potensi untuk terus berkembang dan berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. Berdasarkan hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), pada tahun 2017, merchant UMKM yang bergabung dalam platform Go-Food di sembilan kota berkontribusi lebih dari Rp 1,7 triliun kepada perekonomian nasional.
Jakarta, misalnya, kontribusinya mencapai Rp 302 miliar dan di Medan mencapai Rp 118 miliar. Untuk kawasan Jabodetabek sendiri, yang menarik adalah 83.3% mitra UMKM mengalami peningkatan volume transaksi setelah menjadi mitra Go-Jek dan lebih dari 43% mengalami kenaikan klasifikasi omzet.
Untuk semakin meningkatkan transaksi melalui platform Go-Food, Go-Jek semenjak akhir tahun lalu mengadakan Go-Food Festival (GFF). Pertama kali GFF diadakan di kawasan Pasaraya Blok M, Jakarta. Sebanyak 24 merchant partner berpartisipasi dalam pilot project tersebut.
GFF menggunakan konsep food court atau pujasera, yang mana para pengusaha UMKM dapat menawarkan produk kulinernya. Menurut Catherine Hindra Sutjahyo selaku Chief Commercial Expansion Go-Jek, konsep GFF berbeda dengan konsep food court pada umumnya. Para pengusaha tidak perlu menyiapkan dana besar di muka untuk biaya sewa gerai dan jasa pelayan.
“Kami juga akan menyiapkan seluruh kebutuhan peralatan masak yang biasanya juga cukup mahal bagi para pebisnis mikro,” terang Catherine.
Dalam dua minggu awal pelaksanaan, setiap merchant di GFF Pasaraya mencatatkan penjualan baik offline dan online sebesar 50 – 100 order per hari, dengan jumlah pengunjung bisa mencapai 4.000 orang tiap harinya.
Sampai saat ini, setidaknya lebih dari 14 GFF diselenggarakan di lebih dari 12 kota di Indonesia. Mulai dari Medan, Semarang, Surabaya, Bandung, hingga yang terbaru di Manado.
“Kami menargetkan lebih dari 100 lokasi GFF hingga akhir tahun ini,” ujar Brata Santoso VP of Operations and Business Development GFF.
Secara keseluruhan sudah ada lebih dari 500 merchant partner yang bergabung di GFF di seluruh Indonesia. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Go-Jek melalui akun resmi di paltform Medium, GFF dinikmati oleh beragam kalangan. Pengunjung GFF tersebar dari usia 17-40 tahun.
Sampai Juli lalu, perpaduan transaksi baik offline dan online di GFF mencapai lebih dari 500 ribu transaksi. Sebanyak 20 ribu rata-rata pengunjung mendatangi GFF di 12 kota per harinya. Saat ini GFF juga sudah menerapkan metode pembayaran melalui Go-Pay.
GFF selain menjadi ajang untuk menikmati kuliner, juga merupakan ajang berkumpul. Tren ini dioptimalkan oleh penyelengara GFF dengan membiarkan tempatnya menjadi ajang berkumpul beragam komunitas.
Selain GFF, Go-Jek juga menggelar Hari Kuliner Nasional Go-Food pada Mei lalu. Kegiatan ini akan diselenggarakan serentak di 11 kota di Indonesia dan diikuti oleh lebih dari 7.000 merchant outlet Go-Food.
Nadiem menilai bahwa salah satu faktor sukses Go-Food adalah jumlah mitra pengemudi yang dimiliki oleh Go-Jek yang hampir menjangkau seluruh titik di kota-kota. Tentunya, hal ini berpengaruh kepada kecepatan pengiriman makanan.
Dari sisi merchant, Nadiem melihat bahwa apa yang ditawarkan oleh Go-Food turut membantu bisnis para merchant untuk terus tumbuh. Ia menilai, Go-Food menawarkan beragam solusi mulai dari permasalahan logistik pengiriman makanan hingga mencarikan calon konsumen. Singkatnya, para merchant cukup fokus kepada kualitas dari produknya saja tanpa harus dipusingkan dengan hal-hal lainnya.
“Kami percaya dengan membantu UMKM untuk lebih berkembang Go-Jek bisa semakin memberikan dampak positif kepada ekonomi Indonesia. UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia, dan terbukti tahan krisis,” tutup Nadiem.
Editor: Sigit Kurniawan

Related